LAPORAN PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I
KIMIA ORGANIK I
DISUSUN OLEH :
FADILLAH FATMA
(A1C118092)
DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Pd.
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
VI. Prosedur Kerja dapat diakses pada link ini :
VII. Data Pengamatan
7.1 Rekristalisasi
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
1
|
Dimasukkan dan dipanaskan air suling 50 ml didalam gelas kimia
|
Terbentuk gelembung-gelembung.
|
2
|
Dimasukkan 0,5 gram asam benzoat yang tercemar (asam benzoate+glukosa+arang) dilarutkan dengan air panas
|
Larutan menjadi hitam
|
3
|
Disaring campuran menggunakan kertas saring
|
Warna larutan menjadi jernih
|
4
|
Dijenuhkan larutan dengan memasukkan larutan yang berada didalam gelas kimia dalam air es
|
Terbentuk kristal putih nan mengkilap
|
5
|
Diuji titik leleh dan dibandingkan dengan handbook
|
115oC
|
7.2 Sublimasi
No
|
Perlakuan
|
Hasil
|
1
|
Dalam cawan penguap berisi 2 gram naftalen tercemar yang telah ditutupi kertas saring yang dilubangi kecil-kecil dan dilengkapi corong yang telah disumbat , dipanaskan kurang lebih 4 menit
|
Didalam corong terdapat kristal-kristal
|
2
|
Diuji titik lelehnya dengan mengumpulkan Kristal dan dimasukkan kedalam pipa kapiler dan diuji titik lelehnya
|
Suhu awal meleleh 82oC dan suhu meleleh seluruhnya 85 oC
|
VIII. Pembahasan
Ada banyak hal yang harus diketahui sebelum melakukan pemurnian pada suatu zat yaitu sifat-sifat zat yang ingin dimurnikan, pelarut yang sesuai dan lain-lain. Dengan hal ini, maka untuk memurnikan suatu zat kita harus mengidentifikasi zat yang ingin dimurnikan dengan pelarut yang digunakan sehingga untuk memnentukan kelarutannya kita dapat melarutkannya dalam satu atau dua pelarut. Kita tidak dapat memilih teknik pemurnian sebab harus memperhatikan apakah suatu zat tersebut memiliki alat dan bahan yang memadai sehingga dapat dilakukan dengan suatu Teknik tertentu (syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/).
Pada percobaan ini setelah memperhatikan beberapa hal seperti diatas yaitu, sifat zat, pelarut yang digunakan, serta alat dan bahan kami dapat melakukan dua Teknik pemurnian zat padat. Teknik yang dimaksud adalah rekristalisasi dan sublimasi dengan hasil pengamatan sebagai berikut:
8.1 Rekristalisasi
Rekristalisasi merupakan suatu Teknik untuk memurnikan suatu zat padat dengan melarutkannya dengan pelarut yang cocok dan ketika titik didih tercapai larutan disaring untuk memisahkan zat pandang yang tak larut dalam air. Rekristalisasi mempunya prinsip bahwa suatu senyawa tertentu yang bercampur akan memiliki kelarutan tertentu pula, sehingga pada percobaan ini praktikan menentukan terlebih dahulu pelarut yang akan digunakan untuk rekristalisasi pada asam benzoate yaitu air. Hal yang menyebabkan mengapa air dipilih sebagai pelarut asam benzoate adalah karena air dengan suhu yang tinggi memiliki hasil kelarutan asam benzoate yang tingggi. Dalam percobaan ini juga digunakan zat pengotor yang bertujuan agar benzoate tidak berada dalam keadaan yang murni. Zat pengotor yang digunakan adalah gula pasir yang memiliki kesamaan dengan asam benzoate, yaitu larut dalam air yang memiliki suhu yang tinggi.
Ketika asam benzoate yang tercemar dilarutkan dalam air panas larutan menjadi hitam karena praktikan menambahkan arang. Larutan yang hitam menandakan bahwa arang tersebut larut seluruhnya dalam air dan penambahan arang ini merupakan zat yang mempercepat suatu reaksi. Setelah itu larutan disaring dengan kertas saring sehingga larutannya tidak lagi berwarna hitam melainkan jernih. Filtrat yang didapat dianggap jenuh karena asam benzoate yang sudah dilarutkan dalam suhu yang tinggi ketika suhunya diturunkan akan menyebabkan larutannya menjadi jenuh dan mengkristal. Setelah dilakukan pendinginan dengan menggunakan air dingin didapatkan kristal putih yang mengkilap.
Kemudian setelah didapatkan kristal dari asam benzoate tersebut dilakukan pengujian titik leleh dengan cara manual, hasil yang didapat dari pengujian titik leleh tersebut adalah kristal asam benzoate meleleh seluruhnya pada suhu 115oC yang mana jika dilihat pada literatur suhu dari kristal asam benzoate berkisar dari suhu 117-120oC. Perbedaan hasil yang didapatkan dengan literatur dapat disebabkan oleh beberapa hal, diantaranya adalah kurang tepatnya perbandingan yang dilakukan oleh praktikan ketika mencampurkan 3 jenis zat yang digunakan dan penyaringan yang tidak sempurna sehingga menyebabkan kristal asam benzoate yang terbentuk masih memiliki sebagian kecil zat pengotor dan menyebabkan titik leleh yang dihasilkan tidak sesuai dengan literatur yang ada.
8.2 Sublimasi
Pemurnian dengan cara sublimasi ini merupakan pemurnian yang dilakukan deengan memperhatikan perbedaan kemampuan suatu zat untuk menyublim pada suhu tertentu. Dalam percobaan yang praktikan lakukan praktikan menggunakan naftalen dengan pasir sebagai zat pengotornya.Naftalen digunakan karena sangat mudah untuk diisolasi dan mudah menyublim dari gas menjadi padatan kristal.
Dari percobaan yang dilakukan, didapatkan hasil pengamatan ketika naftalen yang bercampur dengan pasir ini dipanaskan diatas cawan porselen yang ditutupi dengan kertas saring yang sudah diberi lubang-lubang kecil dengan corong buchner diletakkan diatasnya dan disumbat dengan kapas yaitu pasir tidak meleleh dan terdapat beberapa kristal dari naftalen pada kertas saring tersebut. Alasan mengapa corong buchner disumbat dengan kapas dan diletakkan dalam keadaan terbalik adalah agar kristal menempel pada dinding corong tersebut dan uap air dari luar system tidak masuk kedalam corong dan mempengaruhi hasil pengamatan.
Selanjutnya setelah kristal dari naftalen didapatkan, praktikan melakukan uji titik leleh pada kristal naftalen tersebut dengan cara manual. Hasil yang didapatkan dari uji titik leleh ini adalah kristal naftalen mulai meleleh pada suhu 82oC dan meleleh seluruhnya pada suhu 85oC. Dari literarut yang praktikan baca, suhu titik leleh dari naftalen murni berkisar dari 74-80 oC dan sedikit berbeda dari hasil pengamatan yang praktikan dapat. Hal ini dapat disebabkan oleh kurang ahlinya praktikan menggunakan thermometer, sehingga pada saat mengukur suhu praktikan tak sengaja menyentuh thermometer dan mempengaruhi hasil pengamatan dari zat yang diamati.
IX. Pertanyaan Pasca Praktek
1. Apa hal yang menyebabkan pelarut yang digunakan untuk melarutkan asam benzoate tersebut air? Apakah tidak bias digunakan pelarut lain?
2. Pada percobaan sublimasi corong buchner disumbat dengan kapas shingga didapati naftalen menyublim menjadi kristal pada dinding corong tersebut. Apakah ada alasan lain mengapa corong buchner tersebut ditutup atau hanya karena itu saja?
3. Mengapa pada pemurnian zat padat ini dibutuhkan uji titik leleh ?
X. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Praktikan mampu melakukan proses kristalisasi dengan baik.
2. Praktikan mampu menentukan pelarut yang sesuai untuk teknik pemurnian zat dengan rekristalisasi.
3. Praktikan mampu melakukan pemisahan dan pemcampuran pada proses rekristalisasi.
X. Manfaat
Adapun manfaat dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
1. Praktikan mampu melakukan proses kristalisasi dengan baik.
2. Praktikan mampu menentukan pelarut yang sesuai untuk teknik pemurnian zat dengan rekristalisasi.
3. Praktikan mampu melakukan pemisahan dan pemcampuran pada proses rekristalisasi.
XI. Kesimpulan
Dari percobaan yang sudah dilakukan, dapat praktikan tarik kesimpulan bahwa :
1. Kristalisasi yang baik adalah dengan menggunakan pelarut yang sesuai untuk mengkristalkan kembali suatu zat atau sampel.
2. Suatu pelarut dapat digunakan dalam proses kristalisasi apabila memiliki perbedaan daya larut yang besar antara zat yang ingin dimurnikan dengan zat pengotonya, serta zat pengotor yang dipakai tidak tertinggal dan mudah dipisahkan dari kristal zat yang ingin dimurnikan.
3. Untuk menghilangkan warna pada suatu larutan atau menjernihkan suatu larutan dapat digunakan suatu zat yang memiliki daya adsorpsi yang besar.
4. Pemisahan zat dalam Teknik rekristalisasi dapat dilakukan dengan melarutkan zat padat yang ingin dimurnikan dengan pelarut yang sesuai lalu dipanaskan hingga mendekati titik didihnya, lalu zat diuapkan sampai larutan jenuh dan dilakukan penyaringan agar partikelnya terpisah dan membentuk kristal.
XII. Daftar Pustaka
Ahmadi. 2014. Pemurnian Garam Dengan Metode Hidro Ekstraksi. BATCH. Vol 1. No 3:48
Sulistyaningsih. 2015. Rekristalisasi Garam Rakyat Dari Daerah Demak Untuk Mencapai SNI Industri. Vol 2. No 4
Svehla, G. 1990. Vogel: Buku teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta: Kalman Media Pustaka.
Tim Kimia Organik. 2016. Penuntun Praktikum Kimia Organik I. Jambi: Universitas Jambi
XIII. Lampiran





Assalamualaikum wr wb, saya Resa Ovelia Hamsar dengan NIM A1C118034 akan mencoba menjawab pertanyaan nomor 3 dimana pengujian titik leleh dilakukan untuk menguji apakah zat yang dimurnikan sudah benar-benar murni.
BalasHapusAssalamualaikum, saya Diana Sari (A1C118096) akan mencoba menjawab pertanyaan no 1. Untuk melakukan pemurnian suatu zat, pelarut yang digunakan harus memiliki titik didih yang lebih rendah dibandingkan zat yang akan dimurnikan. Serta air merupakan pelarut yang mudah didapatkan, jika menggunakan pelarut yang lai. Ditakutkan pelarut ikut bereaksi dengan zat yang akan d murnikan. Terimakasih...
BalasHapusAssalamualaikum, saya siti asmiyah nim A1C118094 alasan mengapa corong itu ditutup agar uap yg akan jadi kristal tidak langsung menghilang namun terpendap pada corong. Sekian, semoga dapat membantu
BalasHapus