Jurnal 3 Praktikum Kimia Organik I - Pemurnian Zat Padat

JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK I






DISUSUN OLEH :
FADILLAH FATMA
(A1C118092)


DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Pd.



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS JAMBI
2020
Percobaan 3
I.              Judul                  : Pemurnian zat padat
II.           Hari, Tanggal     : Rabu, 24 Februari 2020
III.        Tujuan                : Adapun tujuan dari praktikum kali ini adalah sebagai berikut :
a.       Dapat melakukan kristalisasi dengan baik
b.      Dapat memilih pelarut sesuai untuk rekristalisasi
c.       Dapat menjernihkan dan menghilangkan warna larutan
d.      Dapat memisahkan dan memurnikan campuran dengan rekristalisasi
IV.        Landasan Teori
Ada banyak hal yang dapat mengganggu hasil kemurnian dalam memurnikan suatu zat, misalnya terdapat suatu zat pengotor. Zat pengotor yang terdapat ketika ingin melakukan permunian dengan cara rekristalisasi memiliki perbedaan perlakuan karena ada yang sedikit larut dan ada yang mudah larut. Untuk pengotor yang sedikit larut dilakukan dua kali penyaringan dan untuk pengotor yang mudah larut dilakukan sekali penyaringan saja (Tim Kimia Organik, 2020).
   Contoh penggunaan kristalisasi dalam kehidupan sehari-hari, yaitu kristal garam yang dihasilkan dari ari laut dengan prinsip kerja kristalisasi. Garam yang dihasilkan berupa senyawa kimia dengan rumus kimia NaCl yang mana untuk menghasilkan garam dapur yang baik tersebut dilakukan kristalisasi yang baik pula supaya tidak terdapat zat pengotor (Sulistyaningsih, 2015).
Jenis pelarut merupakan salah satu hal yang penting dalam melakukan kristalisasi, dimana pelarut yang sesuai akan menghasilkan sampel yang sesuai pula. Kelarutan juga sangat ditentukan oleh pelarut yang digunakan, pelarut polar hanya bisa larut dalam pelarut polar dna pelarut non polar hanya bisa larut dalam pelarut non polar (Ahmadi, 2014).
Ada banyak hal yang harus diperhatikan saat pemurnian terhadap suatu zat dilakukan, diantaranya melarutkan zat tersebut dalam beberapa pelarut  organic yang bisa membandingkan pelarut mana yang bisa menghasilkan kemurnian zat yang baik. SIfat perlarut  menentukan apakah pelarut tersebut merupakan pelarut polar atau pelarut non polar. Teknik pemurnian zat dapat dilakukan dengan cara kristalisasi, sublimasi dan kromatografi. Hasil yang didapat tergantung pada kompleks atau tidaknya penggunaan campuran tersebut, sehingga harus diperhatikan waktu yang sesuai untuk melakukan pemurnian zat tersebut (syamsurizal.staff.unja.ac.id/2019/03/07/pemurnian-zat-padat-organik93/)
Suatu zat pengotor yang berasal dari larutan induk dan terbawa oleh permukaan kristal ketika padatan terpisah dari larutan induknya dan dapat dipisahkan dengan pencucian disebut sebagai pengotor yang ada diatas permukaan. Sedangkan pengotor yang ada didalam kristal tidak dapat dipisahkan dengan menggunakan pencucian (Svehla, 2005).
V.          Alat dan Bahan
5.1        Alat
·      Gelas Kimia 
·      Corong Bunchner
·      Kaki Tiga
·      Kasa
·      Bunsen
·      Cawan Penguap
·      Kertas Saring
·      Gelas Wool/kapas
5.2        Bahan
·         Air Suling
·         Asam Benzoat 
·         Es Batu
·         Naftalen
VI.        Prosedur Kerja
6.1        Prosedur Percobaan Rekristalisasi
1.   Dituangkan 50ml air suling kedalam gelas kimia 100ml dan dipanaskan hingga timbul gelembung-gelembung. 
2.   Dimasukkan 0,5 gram asam benzoat tercemar kedalam gelas kimia 100ml yang lain dan ditambahkan air panas tersebut sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga larut semua. 
3.   Disaring dengan menggunakan corong buchner campuran tersebut dalam keadaan panas dan tampung filtratnya dalam gelas kimia. Disiram endapan yang tertinggal dengan air panas.  Dijenuhkan dan didinginkan hingga terbentuk kristal. Apabila pada pendinginan tidak terbentuk kristal, didinginkan dalam es. 
4.   Disaring kristal yang terbentuk dengan corong buchner dan dikeringkan. 
5.   Diuji titik leleh dan bentuk kristalnya,  dibandingkan dengan data yang ada dalam hand book. 
             6.2        Sublimasi
1.Dimasukkan 1-2gram naftalen tercemari kedalam cawan penguap 
2.Ditutup permukaan cawan penguap dengan kertas saring yang telah dibuat lobang-lobang kecil.
3.Disumbat corong dengan gelas wool atau kapas seperti pada gambar
4.Diletakkan cawan tersebut diatas kasa dari pembakar, dinyalakan api dan dipanaskan dengan nyala api kecil
5.Dihentikan pembakaran setelah semua zat yang akan disublimasikan habis (lebih kurang 5 menit)
6.Dikumpulkan zat yang ada pada kertas saring dan corong bila ada, diuji titik leleh dan bentuk kristalnya, dicocokan dengan data hand book

Adapun permasalahan yang timbul setelah menonton video tersebut adalahs ebagai berikut:
1.       Apa yang menyebabkan hanya kapur barus saja yang menguap dan mengkristal, sedangkan  zat pewarna dan zat adiktif lainnya tidak?
2.       Apa fungsi yang dimiliki tanah sehingga dapat digunakan dalam percobaan ini?
3.       Kenapa setelah dipanaskan pada kapur barus berwarna orange terdapat air didalamnya?

Komentar

  1. Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh. Perkenalkan nama saya Dea Ristria Ariani dengan NIM:A1C118003. Saya akan coba membantu menjawab permasalahan nomor 2. Fungsi tanah pada percobaan ini sebagai zat pengotor yang nantinya akan di murnikan senyawa yang di gunakan dari zat pengotor yang ada tersebut dengan karbon aktif misalnya.

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum wr wb
    Saya Rismayanti Nim A1C118007
    Saya akan menjawab pertanyaan no 3
    Jadi kenapa hanya kapur barus yang berwarna orange yang menghasilkan air, hal ini dipengaruhi oleh besar api ketika pemanasan. Jika diperhatikan pada video diatas terlihat bahwa api yang digunakan pada kapur barus orange lebih besar sehingga penguapan yang terjadi pun lebih sempurna, dan zat adiktif serta zat pewarna lainnya menghasilkan air.
    Terima kasih dan semoga bermanfaat
    Wassalamualaikum wr wb

    BalasHapus

Posting Komentar